ARTIKEL KORAN

DARI PRESIDEN HINGGA SANG BRIPTU

Artikel OPINI Haryadi Baskoro dimuat di KOMPAS 16 April 2011

Sejak video ”Polisi Gorontalo Menggila” muncul di YouTube beberapa hari silam, rekaman Brigadir satu Polisi (Briptu) Norman Kamaru yang menyanyi dan menari lagu India ”Chaiyya, Chaiyya” itu langsung ngetop.

Masyarakat merespon, sebagian besar senang dan mengapresiasi. Sang polisi pun sontak menjadi artis dadakan ’berkaliber’ nasional berkat eksploitasi media.

Jika Norman dikenai sanksi sesuai pasal 4F tentang peraturan tindakan disiplin kepolisian, ia bisa tidak boleh menerima kesempatan karir pendidikan selama setahun, tertunda kenaikan pangkatnya selama setahun, dapat pula dimutasi, dan bahkan disel khusus selama 21 hari. Tetapi, Norman hanya diberi teguran lisan dan malahan dianggap berjasa karena mengharumkan citra polisi di masyarakat.

Dilematis memang. Kalau Norman dihukum, masyarakat akan berteriak mengolok. Belum lagi kalangan seniman akan memprotes karena dianggap tak menghargai aspirasi seni. Dengan cepat Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung menyatakan bahwa kalau Norman dihukum, itu berlebihan. Menurut Anung, jika presiden saja boleh menyanyi, mengapa Norman tidak boleh.

Maka yang terjadi justru sebaliknya, Norman disanjung. Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo melihat Norman bertalenta di bidang menyanyi dan memotivasinya supaya mengambangkan potensinya itu. Brimob Polda Gorontalo sendiri mengapresiasi kreativitas Norman. Kapolri bahkan menyatakan bahwa apa yang dilakukan Norman adalah sebentuk kreativitas.

Kultur pop

Dengan munculnya Norman, lengkaplah sudah, dari pucuk pimpinan di negeri ini sampai jajaran bawah, semuanya senang menyanyi. Di satu sisi hal itu menunjukkan bagaimana manusia Indonesia memang berjiwa seni. Namun di sisi lain, benar-benar menunjukkan bagaimana kultur pop telah mencengkeram kita.

Secara antropologis, kebudayaan itu relatif (cultural relativism). Soal baik atau buruk, luhur atau hina, tinggi atau rendah, semuanya relatif. Namun jika diukur dalam konteks filosofis-ideologis, kebudayaan populer (pop culture) yang tidak mengusung nilai-nilai filosofis, merupakan budaya ringan selera rendahan yang dikreasi sekedar untuk menghibur. Beraneka-ragam manifestasi dan produk kultur pop, yang perkembangan dahsyatnya didongkrak media yang sekedar meladeni pasar, hanyalah menekankan kenikmatan sesaat dengan visi-misi “yang penting hepi”.

Sebagian dari produk seni kita – lagu, musik, film, dan seterusnya – tidak mengusung nilai-nilai filosofis-ideologis yang mendalam. Jika itu digandrungi masyarakat, sah-sah saja. Tetapi jika pemimpin dan aparat negara ikut-ikutan selera pasar, sepertinya merendahkan martabat dirinya sendiri.

Para pemimpin Indonesia di masa silam adalah para kreator budaya. Para raja di Jawa, misalnya, dijuluki sebagai narendro sudibyo, pencipta seni dan budaya yang luhur. Budaya populer berselera rendahan itu sendiri sudah ada sejak dulu. Namun, para pemimpin bukannya ikut terjebur ke situ, ikut arus, atau meladeni selera rendahan. Para pemimpin adalah pencipta dan penjaga budaya bangsa yang luhur.

Pencitraan–pengalihan

Indonesia memang aneh tapi nyata. Menghadapi kekecewaan dan ketidakpercayaan masyarakat, pemerintah dan aparat negara justru menyuguhi ‘atraksi hiburan’. Di saat masyarakat sungguh menuntut perbaikan, perubahan, pembaharuan, perombakan, dan pertobatan pemerintah dan aparatur negara, justru disuguhi lelucon. Lucunya, masyarakat juga senang-senang saja.

Dan, seperti sudah bisa ditebak, atraksi itu justru dijadikan bahan pencitraan. Norman dengan dukungan segenap korps bisa jadi ditujukan untuk membangun citra bahwa polisi Indonesia itu kreatif, ramah, menghibur, tidak keras, tidak kasar, gaul, mengikuti perkembangan jaman, menguasai iptek, dan seterusnya. Jika ‘modus pencitraan’ itu yang dilakukan, jelas merupakan metode pengalihan perhatian.

Bangsa ini sudah penat, letih, dan menderita karena menghadapi berbagai persoalannya yang semakin parah. Para pemimpin dan aparat yang tidak sanggup memberi solusi, dan terkadang justru mencari untung sendiri di tengah keruhnya masalah, mencoba meninabobokkan masyarakat dengan hiburan ringan. Sementara mayarakat terlena dengan hiburan itu, dosa-dosa para pemimpin pun dilupakan.

Bangsa ini jangan digiring menjadi bangsa yang cepat melupakan masalah. Entah semua itu direkayasa atau tidak, kebetulan saja atau diskenario, kok sepertinya banyak terjadi pengalihan-pengalihan perhatian yang begitu sistematis. Saat rencana pembangunan gedung baru DPR RI masih diperdebatkan dan mengundang reaksi-reaksi keras, tiba-tiba Briptu Norman naik panggung untuk meredakan tensi penonton (baca: rakyat) di negeri ini. Kebetulankah? Walahualam!

Bangsa ini akan hancur manakala rakyatnya bermental penonton berselera rendahan. Pasti menjadi sasaran empuk bagi para pemain sandiwara yang semakin hari semakin lihai menyentuh dan memainkan emosi tak cerdas para penonton.

HARYADI BASKORO

Peneliti Kebudayaan, Tinggal di Yogyakarta

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s